Aduh, Enaknye! Nasi Ulam Dagangan Si Doel

Foto: DetikfoodFoto: Detikfood

Jakarta - Nasi ulam ialah 'hewan' yang nyaris tidak dikenal di dalam makanan Betawi. Popularitas nasi uduk yang menjulang menciptakan nasi ulam terbenam dan bahkan terancam punah.

Padahal, bila Anda pernah membaca novel 'Si Doel Anak Betawi' karya Aman Datoek Madjoindo, niscaya ingat bahwa di masa kecilnya Si Doel berjualan nasi ulam di sekitar Jagamonyet (tidak jauh dari Harmoni sekarang).

Saat ini, penjaja nasi ulam di Jakarta sanggup dihitung dengan jari tangan. Yang memenuhi syarat untuk dibanggakan hanya tiga penjual. Satu lagi yang masih sangat eksis sanggup dijumpai di Tangerang.

Nasi ulam dan nasi uduk sama-sama merupakan sajian nasi yang gurih. Bedanya, nasi uduk dimasak dengan santan kelapa, sedangkan nasi ulam ialah nasi putih yang dibaur dengan srundeng kelapa.

Baca Juga : Kuliner Pusaka Bondan Winarno Hadir Kembali

Aduh, Enaknye! Nasi Ulam Dagangan Si DoelFoto: Detikfood

Secara umum, nasi ulam disajikan dengan dua cara: kering dan basah. Yang berair menggunakan guyuran kuah semur. Masakan yang diakui sebagai makanan tradisional Betawi ini sesungguhnya pada awalnya dijajakan di kalangan Peranakan Indonesia-Tionghoa. Dulu, para pedagang nasi ulam kebanyakan mendorong gerobaknya dari Tangerang menuju ke sekitar Glodok.

Misjaya, salah seorang penjual nasi ulam di depan klenteng Toasebio di Jl. Kemenangan III, misalnya, ialah penerus dari tauke-nya di Tangerang dulu. Misjaya kini dianggap top of the line dalam soal nasi ulam. Ia mewakili gagrak nasi ulam basah. Nasi putih dengan lauk wajib mihun goreng, irisan dadar, taburan srundeng dan rencekan kacang tanah, diguyur kuah semur tahu-kentang. Topping: segenggam daun kemangi dan krupuk tapioka. Lauknya sanggup dipilih: dendeng manis, cumi asin-kering, perkedel, bakwan jagung, telur matasapi, dan lain-lain.

Para penjual nasi ulam dengan gerobak dorong yang adakala masih sanggup dijumpai di sekitar Petaksembilan, Glodok, juga menyajikan nasi ulam ibarat Misjaya. Diguyur kuah semur, dan lengkap dengan banyak sekali lauk pilihan.

Aduh, Enaknye! Nasi Ulam Dagangan Si DoelFoto: detikFood

Gagrak nasi ulam kering diwakili oleh sebuah warung kecil tanpa nama milik kakek-nenek keturunan Tionghoa di Jl. Mangga Besar I, dan warung besar Haji Yoyo yang tersembunyi di Jl. Haji Dogol, Karet Kuningan. Di kedua daerah ini, nasi putihnya dicampur dengan bumbu-bumbunya, yaitu srundeng. Remukan kacang tanah ditaburkan di atasnya.

Di Haji Yoyo, bahkan ditambah lagi dengan taburan kacang hijau mentah yang sudah direndam semalaman. Bila sempat singgah ke warung Haji Yoyo - yang nasi uduknya juga berkelas juara - jangan lewatkan lauk empalnya yang istimewa. Empalnya berbumbu gurih, dari daging sapi yang sangat empuk, dibuat menjadi bola dan diikat dengan usus ayam, kemudian digoreng. Hmm, mak nyuss!

Lauk kambing gorengnya (sebetulnya lebih ibarat krengsengan kambing) juga sangat dipujikan. Di Tangerang yang dianggap the cradle of nasi ulam, nasi ulam tidak pernah disajikan dengan kuah semur - kecuali diminta. Selain lauk wajib ibarat yang telah disebut di atas, lauk sampingan yang paling terkenal di Tangerang ialah jengkol goreng yang dikeprek (dipenyet), kemudian ditumis dengan kecap manis.

Di Warung Encim Sukaria - dikalangan pelanggan setianya lebih dikenal dengan sebutan Encim Galak atau Encim Bawel - berdasarkan saya, nasi ulamnya berkualitas paling tinggi. Cobalah merasakan hanya nasi ulamnya, tanpa lauk. Gurih dan aromatik sangat.

Ternyata, Encim Sukaria tidak hanya menggunakan srundeng dan remukan kacang tanah, tetapi juga udang kering (udang kering) dan kedelai goreng. Sungguh, citarasa yang tidak sanggup dilupakan.

Belum ada Komentar untuk "Aduh, Enaknye! Nasi Ulam Dagangan Si Doel"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel